Jumat, 30 Desember 2011

Some word for you


“Kau selalu melihat dunia dari balik kacamatamu. Kau menatap segalanya dengan sudut pandang yang sempit dan terbatas, sama seperti lensa kacamuata yang kau pakai itu. Saat segalanya terasa begitu kecil dan sesak kau hanya perlu melepas kacamata itu dan memandang dunia dengan matamu. Maka dunia akan berbalik menatapmu.”

***

“Kenapa kau begitu sedih saat dia pergi meninggalkanmu?”
“Tidak ada lagi yang bias ku ajak untuk berbicara”
“Kenapa harus dia? Kenapa kau tidak berbicara saja denganku?”
“Karena subjek yang kubicarakan adalah kau”

***

Ada kalanya kau jenuh dengan kehidupanmu sekarang, kau ingin kembali ke masa lalu dan mengulang kembali saat-saat bahagia yang kau alami. Kau berharap memiliki mesin waktu? Atau kau berharap kehidupan memiliki remote dengan tombol skip back?
Tapi tentu saja semua itu tidak ada. Saat-saat berharga di masa lalu tidak akan terulang di masa sekarang. Tapi, akan ada saat berharga lain yang muncul seiring dengan berjalannya waktu.

***

Jika aku diminta memilih antara pergi dari hidupmu atau musnah seketika aku akan memilih untuk musnah. Aku akan musnah dan berbaur menjadi oksigen. Sehingga kau akan selalu membutuhkanku, dan aku akan membuatmu tetap hidup selama kau masih bisa bernafas.

***

Hidup akan menjadi sangat indah jika kau mengerti darimana kau harus memandangnya.

Jumat, 09 September 2011

Peux Vous


Peux Vous

Karena takdir bermain-main dengan cinta. Dan kita terjatuh ke dalam permainannya.


@@@


Bisakah kau melihatku seperti caraku melihatmu?


Hari ini, sama seperti kemarin, dan akan sama seperti esok. Aku akan duduk di tempat yang sama, di depan sebuah café bergaya klasik eropa. Aku akan memandang pada sosok yang sama, sosok seorang pria yang selalu mampu membuat waktuku berhenti saat menatapnya, yang selalu mampu membuatku menarik senyum hanya karena mengetahui dia ada, yang bisa membuat badanku kaku hanya karena bertemu pandang dengannya. Aku akan memiliki alasan yang sama di setiap pagi, untuk bisa bertemu dengannya.


 “Aku selalu bisa menangkap sosokmu di tengah kerumunan pejalan kaki. Dan aku selalu bisa memfokuskan pandanganku hanya padamu. Menatapmu dari jarak puluhan meter. Aku selalu bisa menyadari kehadiranmu, karena aku selalu bisa melihatmu.”


Bisakah kau mengingatku seperti caraku mengingatmu?


Sosoknya sudah terpatri di otakku, dan otakku selalu mengirim bayangannya ke seluruh tubuhku. Aku selalu bisa membayangkan dirinta di saat mataku terbuka ataupun tertutup. Aku selalu bisa memikirkannya disaat aku sendiri atau berada di tengah kerumunan.


“Dan pada suatu hari, saat kau tidak muncul di depan mataku, saat kau tidak melalui jalan di depan café ini, aku menjadi gelisah. Sosokmu menghantuiku, keringat keluar dari pori-pori kulitku. Membayangkan sesuatu terjadi padamu, menghawatirkanmu padahal kau sama sekali tidak memandangku. Karena aku selalu mengingatmu.”


Bisakah kau mencintaiku seperti caraku mencintaimu?


Hari ini awan menjadi mendung, membuat lampu-lampu pertokoan menyala lebih cepat. Aku masih duduk di depan café ini untuk memandangnya. Lalu aku manangkap sosoknya yang sedang tersenyum pada gadis cantik di sisinya.
Dan aku tersenyum miris. Kau mengacaukan hidupku saat aku tidak bisa melihatmu, dan kau menghancurkan hidupku saat kau memandang orang lain seperti caraku memandangmu. Aku ingin menangis tapi air mataku tidak mampu keluar. Menyebabkan leherku tercekat dan terasa sangat sakit.
Seseorang menarikku ke dalam dekapannya. Meremas tanganku dengan kuat, dan mengelus pundakku dengan lembut. Dan tanpa kusadari mataku memanas, tetes-tetes air keluar dari mataku. Aku menyadari sesuatu.


Kau tidak bisa melihatkuku seperti caraku melihatmumu.
Kau tidak bisa mengingatku seperti caraku mengingatmu.
Dan kau tidak bisa menciantaiku seperti caraku mencintaimu.


@@@


Aku selalu bisa melihatmu seperti caramu melihatku.


Aku selalu melihatmu, duduk di bangku café bergaya klasik eropa. Sambil menatap lurus ke arah jalan tempatku berdiri sekarang. Kau melihatku melalui matamu yang jernih, membuat hatiku mencelos girang. Kau selalu tersenyum saat aku berada di sekitarmu, membuatku terbius oleh senyum manismu. Dan darahku mendesir di kepala saat mata kita saling bertemu.


Aku selalu bisa mengingatmu seperti caramu mengingatku.


Bayanganmu sudah terlukis di otakku. Aku selalu bisa mengingat sosokmu yang sempurna di mataku. Dan suatu hari aku tidak bisa melihatmu. Aku berlari secepat mungkin, melalui kerumunan orang yang sedang berjalan dan berkali-kali meminta maaf karena telah menabrak mereka. Aku berdecak kesal saat mendapati kursimu diduduki oleh orang lain. Dan pikiran buruk membayangiku, karena aku selalu mengingatmu.


Aku selalu bisa mencintaimu lebih dari caramu mencintaiku.


Kali ini segalanya berbeda. Angin membawa awan hitam yang memaksa matahari meredupkan sinarnya, sehingga lampu pertokoan menyala lebih cepat. Aku berjalan bersama sahabatku yang baru kembali dari England. Aku tersenyum senang padanya saat mengetahui dia akan menetap di Paris. Kemudian pandanganku jatuh pada sosokmu yang berada dalam pelukan seorang pria. Kau terlihat sangat nyaman bersamanya, membuat hatiku luluh lantah.


Aku tersenyum miris pada diriku sendiri. Aku selalu memandangmu seperti caramu memandangku, aku selalu mengingatmu seperti caramu mengingatku, dan aku selalu mencintaimu lebih dari caramu mencintaiku.
Tapi, aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku seperti dia mengungkapkan perasaannya padamu.


Karena takdir bermain-main dengan cinta. Dan kita terjatuh ke dalam permainannya.


Minggu, 26 Juni 2011

Sebuah pemikiran sederhana tentang gaya bahasa

Cuma untuk pendahuluan dari post ini, menurut saya mengkritik karya orang lain itu cukup mudah. Baru-baru ini saya mengkritik sebuah fanfiction di salah satu situs wordpress.

Sebenarnya saya sangat menyukai gaya penulisan fanfiction itu, dengan gaya penulisan yang sangat deskriptif menurut authornya. Yah... beberapa pembaca ff itu sulit memahami alur cerita dari part 1 karena tidak adanya pembagian sudut pandang (POV) yang dituliskan dalam ff itu dan kurangnya dialog di ff-nya.

Karena alasan itu, author mengubah gaya menulis-nya di part 2. Padahal menurut saya tidak perlu sampai mengubah gaya menulis, si author hanya perlu menambahkan POV di setiap perubahan sudut pandang.

Jelas perubahan gaya menulis pada ff part ke-2 membuat saya sedikit kecewa, karena ff itu merupakan favorite saya dan sudah saya tunggu-tunggu sejak lama. Dan hal yang membuat saya menjadikan ff itu favorite saya karena gaya bahasanya yang berbeda dari ff yang biasa saya baca. Jadilah saya mengkritik si author melalui kotak komentar.

Saya memang tidak terlalu berbakat dalam bidang menulis, dan saya akui tulisan saya masih sangat jauh, jauh-sekali dari taraf bagus. Tapi dalam hal berkomentar atau mengkritik sepertinya lebih mudah.

Gaya menulis setiap orang itu jelas berbeda antara satu dan yang lain. Menurut saya gaya menulis itu adalah gambaran kepribadian dan pola berpikir seseorang. Jadi jelas kita tidak bisa mengikuti gaya menulis seseorang. Dan tulisan yang menggunakan gaya menulisnya sendiri akan memberikan daya tarik tersendiri pula bagi pembacanya. Jadi saat gaya menulis berusaha untuk diubah dan ternyata tidak sesuai dengan karakter si penulis, maka tulisan itu akan kehilangan daya tariknya.

Menurut saya hal yang sama terjadi pada ff itu. Si penulis berusaha untuk mengubah gaya menulisnya selama ini, padahal itulah yang membuat tulisannya unggul dari yang lain. Dan saat dia melakukannya daya tarik itu menghilang. Mungkin dia berusaha menyenangkan dan mengikuti keinginan pembaca, tapi saat menulis tidak berasal dari hati lagi sebuah tulisan (cerita) tidak lebih dari banyak huruf dan kata yang berderet tapi tidak bermakna.

Jumat, 27 Mei 2011

Forgetfull girl

Ahahah posting kali ini tentang saya.

Baru-baru ini saya lupa dengan e-mail blog saya!!! Ah kacau! Terpaksa saya harus berpusing-pusing ria dan saling bergulat dengan laptop dan modem demi membuka dasbor blog ini.

Saya buka yahoo mail, sign in di sana dan membuka e-mail saya, eh ternyata terbuka berarti alamat e-mail saya gak salah dong?? Tapi kok dasbor alias home gak mau terbuka??? Usut punya usut ternyata saya salah mengetik co.id menjadi com. Ancur banget!!!

Oh ada lagi. Hari Rabu yang sangat mengesalkan. Pagi-paginya sih saya senang-senang aja, soalnya saya udah mengerjakan pr sejarah saya dan bisa santai-santai sambil online di kelas. Saya melihat anak-anak yang lain lagi sibuk mondar mandir gak jelas, pikiran pertama yang muncul adalah 'mereka belum ngerjain pr sejarah' jadi ya saya fine-fine aja.

Segalanya berubah saat saya melihat salah satu teman saya lagi jalan-jalan di tengah kelas sambil pake-pake baju lab.

"Mampus!! Lupa ka bawa baju lab!!"

Yah, saya lupa membawa baju lab untuk pelajaran fisika. jadi sepanjang hari itu saya habiskan dengan lari-lari dari X.5 ke X.2 untuk meminjam baju lab mereka. Dan saat saya mendapatkan pinjaman baju lab, saya lega sekali. Saya sudah tidak sabar menunggu pelajaran fisika datang.

Tapi, tuhan sedang tidak berpihak kepada saya.

Ibu Murnih masuk ke kelas, duduk di kursi guru dan berkata ke semua murid.

"Hari ini tidak jadi masuk lab ya..."

Sumpah saya kesel banget!!

Dan kesialan yang kemarin terjadi juga berhubungan dengan sifat pelupa saya. Saya lupa membawa pulang buku cetak bahasa indonesia padahal saya punya pr di buku itu dan hari ini saya libur!!! Yah terpaksa kerjakan di sekolah hahaha

Sabtu, 14 Mei 2011

Hubungan: Aku dan pohon maple, Kau dan angin, Kita dan musim gugur



Musim gugur itu selalu indah untukku. Dan angin menjadi tokoh utama yang memperindah musim gugurku.

Karena angin itu lembut, dan selalu menari-nari di udara. Karena angin selalu membawa dedaunan menjauh dari cabangnya, dan menumbuhakan kehidupan baru disana. Dan anginlah yang membawaku sejauh ini bersamamu.

@@@

Hari itu adalah pertengahan musim gugur di bulan Agustus. Itu berarti musim gugur telah berlangsung selama lebih dari satu bulan. Matahari bersinar malu-malu dan angin berhembus kencang. Aku berjalan cepat di tengah hari yang lamban agar segera tiba di rumah kemudian menyeruput teh hangat.

Aku melewati deretan rumah bergaya minimalis dan sekarang sudah berdiri di depan gundakan anak tangga batu. Di ujung anak tangga nampak rumah bergaya tradisional jepang yang berdiri kokoh. Jelas sekali rumah itu sudah berdiri cukup lama dan telah mengalalmi beberapa kali renovasi. Rumah yang sederhana seperti halnya rumah tradisional lainnya, tetapi sangat besar dengan kebun yang tak kalah luas. Home sweet home, rumah bergaya tradisional itu adalah rumahku.

Di sepanjang pinggiran anak tangga ditanami semak-semak bak karpet hijau yang membentang ke atas. Tangga-tangga batu menjadi lebih indah karena pohon maple menjatuhkan daunnya dimana-mana. Aku mulai menaiki gundakan anak tangga satu persatu, berharap cepat tiba di rumah. Tapi angin berkata lain.

Angin membawa topi hangatku bersamanya, dan angin membuatku harus mengikutinya. Ternyata angin memilih melepaskan topiku di salah satu cabang pohpn maple. Aku terus melompat-lompat berusaha mengambilnya, tapi dengan tinggi badan yang hanya 150 cm cabang itu mustahil kusentuh ujungnya sekalipun.

It’s time to give up, aku kembali berjalan menaiki anak tangga dan tidak mempedulikan topi yang seolah meminta untuk dibebaskan. Kemudian langkah kaki terdengar, semakin dekat dan tiba-tiba berhenti. Suara langkah kaki itu digantikan oleh suara gesekan antara dua benda. Aku berbalik dan yang kulihat adalah seorang siswa SMA berseragam sama sepertiku sedang mamanjat pohon maple dan berusaha menarik topiku.

@@@

Musim gugur kali ini sama seperti saat itu, pohon maple sudah mengganti warnanya menjadi merah, angin meliuk-liuk di udara bersama dedaunan. Masih di tempat yang sama, di tangga batu ini. Aku diam di tangga itu, membiarkan angin bermain-main dengan rambutku. Aku sedang menunggumu di bawah pohon maple yang masih setia menemaniku.

Hari sudah mulai gelap, yah hari ini malam terlalu cepat datang. Aku masih berdiri disini, di bawah pohon maple ini. Angin semakin dingin, dan mulai menyusup masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori kulitku. Membawa hawa dingin bersamanya, seolah menyuruhku untuk kembali ke dalam rumah yang hangat. Dia belum datang.

@@@

Angin semakin dingin, berarti musim gugur akan segera digantikan oleh musim dingin. Aku masih berdiri di bawah pohon maple yang daunnya sudah mulai habis karena terus digerogoti oleh angin. Masih menunggumu yang belum juga datang. Aku juga sudah lelah, sama seperti pohon maple ini, dan memutuskan untuk melepasnya bersama angin.

Sepertinya angin merasakan perasaanku, kemudian angin membawamu kehadapanku. Kau berjalan kearahku, perlahan hingga kau tepat berada di depanku. Aku melihat senyummu yang miris, dan kau mengeluarkan suara yang terdengar seperti bisikan angin.

“Goodbye…”

@@@

Pada akhir cerita selalu ada yang berbeda, begitu juga denganku. Dan yang mengubah segalanya adalah angin. Angin yang membawa mu padaku. Kau juga datang seperti angin. Kau datang dalam hidupku, tapi hanya sementara. Dan saat kau sudah berlalu, aku tidak bisa memanggilmu kembali. Kau bisa menyentuhku tapi aku tak akan bisa menyentuhmu. Kau bebas seperti angin, bisa pergi kemana saja. Dan sekarang kau sudah pergi ke tempat yang jauh, bersama angin. Tapi aku tetap disini, di sini bersama pohon maplei yang tak bergerak. Masih disini dan tak bisa menyusulmu. Tidak, bukan tidak bisa, hanya saja belum saatnya.

Jadi musim gugur merupakan musim yang terindah dan angin adalah hal yang selalu kusukai. Tapi musim gugur juga merupakan musim yang sangat menyakitkan, dan angin adalah hal paling dingin yang membawamu pergi.

Selasa, 05 April 2011

Ways to Live Forever
Setelah Aku Pergi


Sam menyukai fakta-fakta. Dia penasaran tentang hantu dan UFO, film horror dan ilmuan, balon Zappelin dan kematian. Sam mengidap leukemia. Karena itu, dia ingin tahu fakta-fakta tentang kematian. Sam membutuhkan jawaban atas pernyataan-pernyataan yang enggan dijawab orang-orang.

Ways to Live Forever adalah buku harian Sam yang berisa daftar-daftar, cerita-cerita, foto-foto, berbagai pernyataan dan fakta yang dikumpulkan selama minggu-minggu terakhir kehidupannya. Pandangannya yang jernih tentang kehidupan dan kematian membuat buku ini menjadi salah satu buku yang paling membangkitkan semangat dalam menghadapi salah satu fakta kehidupan yang tak terelakkan.

If I Stay
Jika Aku Tetap Disini


Mia memiliki segalanya: keluarga yang menyayanginya, kekasih yang memujanya, dan masa depan cerah penuh music serta pilihan. Kemudian, dalam sekejap, semua itu terenggut darinya.

Terjebak antara hidup dan mati, antara masa lalu yang indah dan masa depan yang tidak pasti, Mia menghadapi satu hari penting ketika ia merenungkan satu-satunya keputusan yang masih dimilikinya- keputusan terpenting yang akan pernah dibuatnya.

@@@

Itu adalah dua novel yang ceritanya cukup unik. Ceritanya juga sedih tapi manis.

Jumat, 25 Maret 2011

Give up

Langit sore ini sangat oranye. Karena sinar matahari yang hangat terpantul di gumpalan awan yang putih. Pohon-pohon menjulang tinggi berusaha meraih langit. Sungai membelah dua daratan, dan airnya juga tampak oranye.

Di salah satu sisi daratan berdiri rumah sederhana berdinding semen. Menghadap pada matahari yang akan beristirahat. Itu adalah rumah sederhanaku, yang dulu selalu dipenuhi dengan harapan dan kebahagiaan. Yang dulu selalu menjadi rumah yang sangat nyaman dan penuh kehangatan.

Tetapi dunia terus berputar dan tidak akan membiarkan seseorang terus berada di atas. Kini rumah itu tidak lebih dari susunan pondasi, tiang, dan batu bata yang dingin.

Di tengah sungai dua perahu mengapung bersama, tidak ingin ikut terpisah seperti dua daratah di sampingnya. Dan aku terus disini, sendirian di tepi sungai menatap iri pada dua perahu itu.

Orang-orang selalu bilang langit akan menggambarkan perasaanmu. Tapi itu hanya kata-kata romantis di dunia penyair. Karena sekarang matahari semakin oranye dan perasaanku semakin mendung. Huh… mungkin matahari tidak berpihak padaku, karena masih banyak perassan orang lain yang bisa digambarkan di langit-Nya.

Matahari memang memberikan kehangatan tersendiri di awal musim gugur yang dingin ini. Tapi kahangatan itu tidak berarti banyak bagiku, karena aku kembali sendiri. Aku terus menatap ke sebrang sungai, berharap melihat sosok berambut coklat terang berjalan sambil tersenyum kepadaku. Aku terus membuka telinga lebar-lebar, berharap dapat mendengar langkah kaki ringan yang sekarang tidak pernah kudengar lagi. Aku terus menarik nafas berharap dapat mencium aroma daun teh yang selalu merasukiku.

***

Aku masih tetap disini, menunggu sosok yang sama. Dan udara semakin dingin, karena sekarang sudah memasuki akhir musim gugur. Tetapi dia tidak kunjung datang.

Apakah sekarang saatnya menyerah???

Aku mengangkat kepala, menengadah kepada langit. Dan kali ini langit menggambarkan perasaan seseorang lagi, tapi bukan perasaanku. Kemudian aku berdiri, menatap untuk yang terakhir kali ke sebrang sana lalu kembali manatap langit. Aku tersenyum padanya, dan sekarang aku sudah mengerti.

We should not give up until the end
But we should give up when the time is over
And continue our live


Langit menggambarkan perasaan seseorang tetapi bukan aku. Itu adalah perasaan seorang wanita berambut coklat terang yang tersenyum sedih menatap seseorang terus menunggu dirinya yang tidak akan pernah datang.

Hingga akhirnya aku melepaskannya dan berjalan pergi sambil menatap langit. Dan wanita berambut coklat terang tersenyum teduh dari atas sana.

Kamis, 17 Maret 2011

Abu-abu

Dunia ini gelap...
Segalanya abu-abu dengan cahaya lampu yang temaram.


Sepanjang jalan adalah rumah dan toko, bahkan ada cafe. Seharusnya ada kehangatan di sana, tapi yang tampak oleh mata hanyalah abu-abu. Jendela ditutup rapat-rapat, gordennya hitam dan usang. Jangankan mengintip ke dalam, cahaya saja tidak bisa menembusnya. Di ujung jalan terdapat dua menara tinggi yang terlihat congkak. Tinggi dibandingkan bangunan lain di sekitarnya. Tetapi tetap saja sama, abu-abu yang menyedihkan.

Dan hening. Hening yang ganjil di tempat yang abu-abu. Hening sehingga desah nafas terdengar seperti hembusan angin topan. Tapi hening ini ganjil, hening tetapi penuh dengan bisik-bisik yang tak dapat didengar. Hening, tapi sesungguhnya disana ada banyak mata memandang.

Semua mata abu-abu itu memandang pada sebuah aston martin silver yang terparkir di depan bangunan bergaya klasik dengan dinding semen yang terkelupas termakan usia.

Kemudian seorang pria dengan mantel tebal berwarna krem keluar dari onggokan besi mewah tersebut dia mengetuk pintu bangunan klasik itu tiga kali. Dan seorang pria penuh masalah keluar dari bangunan itu. Terlihat jelas dari wajahnya yang kurus dan tidak terawat. Bahkan kau dapat melihat urat-urat dibawah kulitnya yang tipis dan pucat. Dia menggunakan piama lusuh berwarna merah, tersenyum penuh bahagia pada pria bermantel didepannya. Tapi sebelum senyum itu terhapus dari wajahnya peluru shoot gun sudah bersarang di kepala pria tersebut.

Dan aston martin melaju pergi bersama pria bermantel sebagai pengemudi. Dan pasang-pasang mata yang menyaksikannya tetaplah abu-abu. Kembali mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Membiarkan segalana tertimbun oleh abu-abu.

Something

Dari aku untukkmu....

Saat aku berdiri di persimpangan jalan…

Di depan ada ‘dia’ merentangkan tangannya untukku. Di kanan ada ‘dia’ memegang payung untuk melindungiku dari titik-titik air hujan. Di kiri juga ada ‘dia’ memegang sebuah kotak berisi ungkapan hatinya, yang pastinya adalah sesuatu yang barharga. Dan di belakang ada ‘dia’ berlari berusaha meraihku sepenuh hati.
Ternyata ‘kau’ ada di sampingku, menggenggam tanganku dan berkata,

“Aku akan tetap menggenggam tanganmu sepeti ini”.

Dan ‘kita’ terus melangkah, persimpangan itu menghilang, yang tersisa adalah jalan lurus ke depan yang penuh dengan gerbang menuju masa depan.

Dari kau untukku...

Saat kau menangis…

Jika kau menangis di tengah hujan, hujan hanya akan menyamarkannya dengan bulir-bulir airnya.

Jika kau menangis di tengah malam, hanya akan membuat matamu bengkak di esok paginya.

Jika kau menagis di dalam kamar, bebanmu akan bertambah karena bayangan-bayangan mengerikan yang terlintas.

Jika kau menangis di depan ibumu, maka dia juga akan menangis dan kau akan berdosa memberikan beban yang lebih berat padanya

Jika kau menangis di depan umum, semua orang akan menganggapmu orang yang bodoh.

Tetapi jika kau menangis di pundakku aku akan berkata “teruslah menangis supaya kau tetap bersandar di pundakku”. Dan kau seharusnya tertawa maka bebanmu akan menguap pergi bersama angin di musim gugur.

Jumat, 11 Maret 2011

curcol "MID"

Mid semester telah tiba...
Tidak... Tidak... Hatiku menangis...

Mid semester itu memang satu dari banyak hal yang tidak ingin saya alami selama hidup di dunia, tapi takdir harus tetap dijalani huhuhu T_T

Hari pertama duduk di depan, tepatnya kedua dari depan, sangat mengerikan.
Soal kimia sih okay, tapi matematika dan fisika!!! Oh my god!!! It's look like better if i die!!! *not really*
Yah lumayanlah... dengan nilai tidak mencapai standar hanya 72,5 setidaknya saya sudah melalui matematika dengan cukup baik...

Sekarang beralih ke topik pengawas... Kelas X.2 memang bisa disebut kelas yang sial karena selama 3 kali berturut-turut ulangan MIPA berlangsung kami (X.2) tidak pernah mendapatkan pengawas yang berbaik hati memmbiarkan kami menyontek atau bekerja sama... Poor us...

Berikutnya soal. Soal-soal seperti jala membelit kami dan menyeret kami ke lautan badai... Maksudnya soal-soalnya terlalu complicated dan sangat-tidak-bisa-diselesaikan-dalam-waktu-satu-setengah-jam. Sang guru berotak 'dewa' membuat soal yang terlalu rumit dengan angka-angka gak penting lainnya dengan banyak koma, pecahan, dan akar.

Jadilah ulangan yang sangat tidak menguntungkan tanpa adanya remedial...

Selasa, 22 Februari 2011

Rumah L...


Just my stupid experience because of Ms.Z kekeke (she probably know)
                Di suatu hari yang cerah, tidak ada angin tidak ada hujan dan tidak ada tsunami. Dengan senyum paling lebar Ms.I masuk ke kelas seraya berkata dengan logat Makassar “Gem ada kabar gembira ku, mauko tau??”
Dan saya dengan tampang penasaran bercampur geli menatap Ms.I penuh arti. “Huh?? Kenapai??”
“Tidak jadi ki’ latihan kayaknya!!!” itu adalah kata-kata yang paling ingin saya dengar dari mulutnya.
                Tuhan sepertinya mengetuk pintu hati kakak kelas pas* sehingga saya tidak perlu mengikuti latihan di hari yang panas ini. Dan dengan senang hati saya meninggalkan kelas penuh keibutan itu dan menyebrang ke kelas sebelah.
                Saya mendatangi Ms.Z yang sedang berkuat dengan laptopnya bersama Nab* disampingnya.
                “We mauko pergi ke rumahnya L??” saya bertanya seraya memukul bahunya pelan
                L yang dimaksud di cerita ini bukanlah Matsuyama Kenichi pemeran Death Note, tetapi L adalah teman kami yang kelasnya berada di dekat kelas 2. Rumahnya sudah menjadi tempat kabur saat pulang sekolah kami. Kenapa harus rumahnya si-L??? Karena rumahnya yang berada paling dekat, banyak makanannya *popcorn* dan paling penting ada Wifi-nya!!! Kekekeke peace ^-^V
                “Bah mauka juga, tapi ada rapat P**” katanya seraya menatap saya penuh sesal.
                “Deh… padahal mau ka’ ke rumahnya L…”
                “Ohh… atau pergi me ko duluan de rumahnya L, tunggu ma’ di sana!!!”
                “Deh… masa 2 orang ja’ dengan L??? Kabur me ko dari rapat P**
                “Ihh… evil mentong ko kau gem!!!” Ms.Z menatap dengan tatapan sinisnya
Saat pulang sekolah…
                “We jadi ke rumahnya L??” saya masih berkuat dengan pertanyaan yang sama
                “Tanya mi pade dulu L, nanti kau pergi deluan ke sana saya nyusul sudah trapat”
                “Iyo pade, telpon mi sekarang”
                Tuut…
                “Halo… L!!! Bisa ka’ datang kerumahmu???”
                “Hah?? Tidak tau mi juga, mau ka’ pergi ke GTC sama yu**..” kata L di seberang telpon
“Deh… iyo pade tidak usah mi… dada!!!”
Dan akhirnya, saya pulang ke rumah dengan perasaan hampa sendirian di atas becak yang berjalan lamban dibanding kendaraan di samping kanan kirinya. Dan saat saya sedang menunggu angkot yang senantiasa menemani saya selama 3 tahun terakhir, handphone saya bergetar. Di layar tertera nama ‘Z**** Unn’.
“Halo…”
“We di mana meko ini??”
“Ada ma’ di dekat mesjid Al-Markas mau naik angkot”
“Ihh.. mau ko ke rumahnya L?? Katanya tidak jadi ki pergi sama yu**”
Dan hal itu membuat saya shock berat. Kenapa?? Bukannya saya senang pergi ke rumah L?? Tapi masalahnya tidak terletak di senang atau tidak senang, tetapi masalahnya uang yang tersisa LIMA RIBU RUPIAH di kantong saya. Bagaimana mungkin saya bisa pergi ke rumah L dan pulang dengan selamat hanya dengan lima ribu rupiah???
“Mau ka pergi, tapi tinggal lima ribu uangku..”
“Deh… datang meko saja, nanti pinjam uang sama L”
Dan dengan bodohnya saya termakan rayuan Ms.Z yang sepertinya sedang tejangkit virus evil. Sebenarnya saya meng-iyakan karena saya memang malas pulang ke rumah terlalu cepat, tetapi juga malas tinggal di sekolah.
Saya menaiki becak dan pengemudinya mulai mendayung becak sekuat tenaga ke rumah L. Dan tibalah saya di depan rumah L, setelah membayar becak dengan satu-satunya uang yang tersisa saya mengecek handphone dan ternyata saya mendapatkan sms dari Ms.Z.
Tdk jd
Saya berusaha untuk tidak mengerti kata-kata yang tertulis di layar hp saya, dan dengan hati gusar segera menelpon Ms.Z.
“Halo, we apa maksudnya itu tidak jadi??”
“Bah.. tidak jadi ka’ ke sana, katanya L mau ki bersihkan kamar”
“HAH!!! Gila ko?? Ada ma’ di depan rumahnya ine!!!”
“HAH!!! Iyo pade datang ma’ ke sana, masuk meko duluan”
Dengan tampang dongkol saya menelpon L agar membukakan pintu rumahnya, tetapi nomornya tidak aktif, dan sejenak saya berfikir ‘Apakah ini karma?? Atau L berpura-pura tidak mendengarkan telpon dari saya??’ tapi saya segera menepis pemikiran itu. Karena tidak kunjung dibukakan pintu, saya mulai berteriak memanggil nama L berkali-kali. Hingga akhirnya entah di panggilan ke berapa L membuka pintu dengan tampang bingung.
“Kenapai Gem???” mungkinkah L berfikir saya datang untuk meminta sumbangan??? Secara tidak langsung jawabannya iya… memalukan…
Saya masuk dan menceritakan kisah bodoh itu dengan tampang bodoh juga dan L hanya tertawa menanggapinya. L melanjutkan kegiatan main gamenya yang sempat tetunda dan saya hanya bengong meperhatikan L. Karena bosan, saya mulai mengutak atik buku L dan menemukan Marmut Merah Jambu di sana. Dan tenggelamlah saya dalam tiap lembaran buku yang mengocok perut.
Tok..tok
Pintu kamar diketuk dan muncullah orang yang sedari tadi ingin sekali saya gebuk, Ms.Z masuk dengan tampang innocent disertai senyum sumringan. Saya mulai menyembur dia dengan keluhan-keluhan saya, dan responnya hanyalah ‘hehe siapa suruh kau mau datang’ jawaban itu seperti petir menyambar dan angin yang menampar pipi saya.
Tapi satu menit kemudian, kami mulai berkuat dengan laptop Ms.Z seperti tidak ada yang terjadi beberapa saat yang lalu. Kami memulai aktivitas menonton video We Got Married, sementara sang pemilik rumah mulai melayang kea lam mimpinya.
The End
N/b: hahaha ini Cuma cerita dari pengalaman saya baru-baru ini, mungkin tidak begitu mirip karena sudah diberikan sedikit bumbu-bumbu kekeke. Untuk orang-orang yang terlibat dalam cerita ini, jika kalian merasa tersinggung atau tidak suka, silahkan langsung katakana kepada saya. Jika ada pihak yang merasa terganggu maka post ini akan saya hapus dan saya tidak akan membuat post seperti ini lagi.
Tapi sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada semuanya!!!!
^-^


Kamis, 17 Februari 2011

Finally

Finally it's done!!!!
Akhirnya setela sekian lama bergulat dengan google, blogger, dan laptop blog ini jadi juga... hehehe

Yah... karena ini posting awal.. gak usah banyak cincong... lah....
Enjoy my blog!!!!